Ramadan: Antara Puasa, Belanja serta Perekonomian

VIVA – Bulan Ramadan telah tiba dan bagi umat muslim bulan Ramadan adalah saatnya menjalankan kewajiban berpuasa selama satu bulan penuh. Bertarak menurut KBBI merupakan satu diantara rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan seluruh yang membatalkannya mulai lahir fajar sampai terbenamnya matahari.

Menahan muncul adalah inti dari bertarak. Karena seharian menahan diri dari makan dan menelan, maka saat menjelang maghrib banyak diantara kita dengan “lapar mata” dan tak mampu mengontrol keinginan buat membeli segala macam sasaran dan minuman yang mulai banyak bertebaran di susur jalan.

Mencari takjil adalah hal yang jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia selama Ramadan. Berbagai macam makanan dan minuman yang menggugah selera diborong dengan harapan nantinya akan dimakan saat berbuka pertarakan.

Selain itu Ramadan pula identik dengan lonjakan biaya aneka macam kebutuhan rumah tangga. Lonjakan tersebut meliputi meningkatnya jumlah barang maupun jenis barang yang dibeli. Barang-barang yang bersifat keinginan seolah berubah menjadi kebutuhan untuk dibeli. Inilah yang membuahkan perubahan pola konsumsi semasa Ramadan.

Perubahan Ragam Konsumsi

Pola konsumsi masyarakat pada Indonesia selama Ramadan penuh mengalami perubahan. Perubahan itu lebih disebabkan karena faktor psikologis. Karena berpuasa, karakter cenderung merasa bahwa asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya cenderung berkurang. Sehingga muncul keinginan untuk mengganti kekurangan yang dirasakan selama siang dengan menggantinya pada saat malam setelah berbuka puasa.

Fenomena dengan terjadi adalah banyak vila tangga yang berusaha menyediakan menu spesial hampir semasa Ramadan. Menu makan yang biasanya dikonsumsi sebelum Bulan berkat akan berubah menjadi lebih lengkap, dengan aneka tambahan makanan pembuka dan pula makanan penutup.