Corona Mengganas, PBSI Kesulitan Sediakan Vitamin untuk Pebulutangkis

VIVA – Virus Corona terus bercabul di Indonesia. Pemerintah dibantu berbagai elemen terus berupaya menangani virus yang dikenal sebagai COVID-19 tersebut.

Mengganasnya COVID-19 tidak hanya menggerogoti sektor perekonomian masyarakat, tapi ini juga berimbas kepada bulutangkis dunia. Sederet turnamen tenggat kini dibatalkan maupun ditunda.

Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sangat konsen memperhatikan kesehatan dan keselamatan insan bulutangkis Tanah Air.

Bahkan, PBSI telah menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bergabung Komisi X DPR RI di Rabu 8 April 2020. PBSI dan beberapa cabang olahraga lainya turut hadir di Senayan.

Ada tujuh poin penting dalam rapat tersebut, salah satunya PBSI menyampaikan pengganggu dalam menyediakan vitamin dan komplemen untuk para atlet. Menyikapi ini, Komisi X DPR menyarankan biar PBSI bersurat ke Kemenpora supaya bisa dilanjutkan ke Kementerian Kesehatan.

Menurut Sekretaris Jenderal PBSI, Achmad Budiharto, supply vitamin dan suplemen di pelatnas cuma mencukupi hingga akhir bulan tersebut. “Jika belum ada jalan muncul, maka selanjutnya PBSI akan pengganggu menyediakan vitamin dan suplemen bagi para atlet pelatnas, ” kata pendahuluan Budiharto dilansir dari badmintonindonesia. org, Jumat 10 April 2020.

Sementara itu, dalam RDPU terjadi beberapa kesepakatan, antara asing tetap diadakan pelatnas. Berikut tujuh hal yang menjadi poin istimewa dalam RDPU:

1. Bahwa pelatnas PP PBSI tetap diadakan dengan menghiraukan aspek kesehatan dan keselamatan olahragawan

2. Mengenai kesejahteraan pelatih dan pemain, PP PBSI menjelaskan bahwa atlet telah terikat kontrak dengan masing-masing sponsor. Adanya pembekuan rangking dunia oleh BWF (Badminton World Federation) sementara membuat hal ini tidak menjadi masalah bagi para atlet dan sponsor. Sedangkan gaji pelatih pelatnas selama ini dibayar oleh PBSI dan sejauh ini PBSI masih mampu mengatasi hal tersebut.

Lihat Serupa

3. Usulan mengenai pembebasan pajak hadiah (prize money) yang diterima pemain yang sebetulnya pada zaman itu sudah pernah diajukan ke Menteri Pemuda dan Olahraga, tetapi saat itu dijelaskan bahwa susunan ini bisa diubah jika DPR menyetujui. Adanya pembahasan ini bersama Komisi X DPR tentunya mewujudkan proses pengajuan perubahan aturan menjadi selangkah lebih maju.

4. Di tengah kondisi penting COVID-19, PBSI menginformasikan kesulitan penyediaan vitamin dan suplemen bagi para-para atlet. Komisi X DPR menyarankan PBSI untuk menulis surat ke Kemenpora dan akan diteruskan ke Depkes. Dituturkan Budiharto, supply vitamin dan suplemen di pelatnas cuma mencukupi hingga akhir bulan ini. Jika belum ada jalan muncul, maka selanjutnya PBSI akan pengganggu menyediakan vitamin dan suplemen untuk para atlet pelatnas.

5. Komisi X DPR mengimbau kepada para insan olahraga bahwa tujuan olahraga adalah kesehatan, tamasya dan prestasi, namun jangan datang mengejar prestasi tapi melupakan kesehatan.

6. Mengacu pada ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Gembung (PSBB) di Jakarta yang tidak membolehkan kegiatan berkumpul lebih sebab lima orang, PBSI akan meminta dispensasi melalui Kemenpora, dengan lestari memperhatikan ketentuan pencegahan Covid-19 sejak pemerintah.

7. Upah X DPR menanyakan kemungkinan penyelenggaraan turnamen tanpa penonton. Dijelaskan Budiharto, beberapa kesulitan yang muncul adalah permintaan izin keramaian, izin bagi para peserta dari negara lain untuk memasuki wilayah Indonesia pada saat darurat COVID-19, kesulitan pembiayaan turnamen dari panitia pelaksana, beserta kemungkinan keberatan dari sponsor dengan berkurangnya eksposure.

Membaca: Menghilang Sejak Maret, Kondisi Monster Bulutangkis Dunia Mengejutkan