Buntut Lokasi dalam Membangun Perusahaan Manufaktur

VIVA – Perusahaan manufaktur adalah kongsi industri yang kegiatannya mengubah bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai sehingga dapat dijual.

Tujuan dari perusahaan manufaktur melakukan penjualan adalah untuk menyediakan sasaran baku untuk dikelola menjadi suatu produk guna memenuhi permintaan rekan.

Di tengah kurun teknologi yang semakin canggih masa ini, perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memiliki banyak peran. Kongsi manufaktur dinilai lebih produktif & mampu meningkatkan nilai tambah 1 baku, memperbanyak tenaga kerja, men sumber devisa terbesar, serta menjadi penyumbang pajak dan bea cukai terbesar.

Dalam mendirikan perusahaan manufaktur, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah strategi letak. Lokasi memiliki peran menentukan hasil untuk segala jenis kegiatan, serupa itu pula untuk kegiatan bisnis dalam sektor barang maupun jasa. Kedudukan sangat mempengaruhi risiko, biaya, dan keuntungan perusahaan secara keseluruhan.

Banyak alasan dengan mendasari hal tersebut, diantaranya adalah sektor barang yang memerlukan letak untuk melakukan kegiatan pembuatan produk barang tersebut atau tempat membikin. Sedangkan untuk sektor jasa memerlukan tempat untuk dapat memberikan penyajian kepada konsumen.

Jadi seorang yang ingin membangun ataupun sedang menjalankan perusahaannya, penting buat menentukan di mana akan menempatkan kegiatan operasionalnya.

Keputusan lokasi merupakan keputusan jangka panjang, susah sekali untuk di revisi, mempunyai efek di biaya tetap maupun biaya variable seperti biaya transportasi, pajak, imbalan, sewa, dan lain-lain. Ada kurang pilihan yang ada dalam kedudukan, antara lain tidak pindah, tetapi meluaskan fasilitas yang ada; melindungi lokasi yang sekarang, selagi menaikkan fasilitas di tempat lain; atau menutup fasilitas yang ada dan pindah ke lokasi lain.

Beberapa faktor yang mempengaruhi lokasi, antara lain:
(1) Produktivitas Tenaga Kerja, karyawan ialah input paling penting bagi perusahaan, sehingga tingkat produktivitas tenaga kegiatan sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Bersentuhan dengan strategi lokasi maka banyak perusahaan mempertimbangkan faktor seberapa daya tenaga kerja di beberapa alternatif lokasi yang dipertimbangkan.

(2) Nilai Ubah dan Risiko Mata Uang, sekalipun tingkat upah dan produktivitas tenaga kerja membuat sebuah negara tampak ekonomis, namun nilai tukar tanda uang suatu negara terhadap sembrono uang negara lain yang tidak menguntungkan dapat memangkas penghematan dengan telah dilakukan. Dan kadang-kadang kongsi dapat mengambil keuntungan dari poin tukar yang menguntungkan dengan mentransfer lokasi atau mengekspor produknya ke luar negeri.

(3) Biaya, biaya yang terkandung di dalam lokasi ada dua macam, yakni biaya nyata dan biaya tidak nyata. Biaya Nyata (Tangible Cost) adalah biaya yang dapat dihitung atau biaya yang dapat dikenali secara tepat, seperti biaya penyajian umum, tenaga kerja, bahan remaja, pajak, penyusutan, dan biaya lainnya.

Sedangkan Biaya Tidak Nyata (Intangible Cost) merupakan ongkos yang lebih sulit ditentukan, misalnya kualitas pendidikan, sikap calon pegawai, standar hidup, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi proses rekrutmen.

(4) Sikap, sikap dari pemerintah pusat, wilayah maupun wilayah terhadap kepemilikan swasta, penetapan zona polusi, stabilitas tenaga kerja, & juga pola kepemimpinan, serta yang tidak kalah penting adalah kebiasaan masyarakat di lokasi tersebut.

(5) Kedekatan dengan pasar, banyak perusahaan yang secara berniat memilih lokasi operasionalnya dekat dengan konsumen seperti usaha restoran, salon, toko kelontong, yang menyadari bahwa kedekatan lokasi dengan pasar ialah faktor utama keberhasilan usaha mereka. Demikian pula untuk usaha manufaktur, ada yang memilik lokasi dekat dengan konsumennya, karena mahalnya bea transportasi jika harus berada pada lokasi yang berjauhan.

(6) Kedekatan dengan supplier, beberapa orang menempatkan lokasi bisnisnya depan dengan pemasok dan bahan anom. Hal ini biasanya disebabkan sebab bahan baku yang mudah hancur, biaya transportasi mahal, serta jumlah produk yang banyak. Contoh itu banyak diterapkan pada pabrik emas biru, pengolahan ikan, produsen biji baja dan besi.

(7) Kedekatan dengan pesaing (clustering) yakni lokasi berdekatan para usaha dengan saling bersaing, yang sering disebbakan oleh adanya informasi, bakat, pangkal proyek, atau sumber daya dunia yang berlimpah di suatu daerah. Hal ini tidak hanya terdapat di usaha manufacturing saja, tetapi dalam bidang jasa juga ada, misalnya pada pembangunan pusat perdagangan elektronik, pusat perdagangan tekstil, & lain-lain.