70 Persen Generasi Milenial Tertarik Investasi Saham, Surge Tergiur

VIVA –  Generasi milenial zaman ini mulai tertarik berinvestasi pada bursa saham. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, sekitar 60-70 persen investor-investor muda dengan berusia sampai 40 tahun menanamkan modal di bursa saham. Apalagi, sebagian perusahan yang melantai pada BEI menjual sahamnya dengan makna yang relatif terjangkau.

Di sisi lain, generasi milenial juga banyak yang berkecimpung jadi pelaku industri digital. Sedangkan dengan umum, kebutuhan masyarakat akan internet semakin meningkat meski dalam asing hal, idealnya, mereka ingin mendapatkan jaringan internet secara gratis.

Berdasarkan fakta itulah, PT Solusi Sinergi Digital (Surge) mengajak masyarakat Indonesia, terutama dari tingkatan milenial, untuk ikut berpartisipasi memajukan kesejahteraan dan perekonomian rakyat melalaikan bisnis digital.

“Kami mengajak lapisan umum yang memiliki visi yang pas dengan kami, mengajak bersama-sama memiliki surge ini dengan cara berinvestasi. Mulai 22 Desember 2020, Surge go public di bursa efek, secara kode saham WIFI, ” kata Direktur Utama Surge, Hermansjah Haryono, dalam keterangan tertulis diterima Jumat malam, 18 Desember 2020.

Komisaris Surge, Alexander Rusli, menjelaskan, kaum milenial memang paling cocok berinvestasi di bisnis digital. Pasalnya, mereka lebih banyak meminati dunia digital berikut peluang bisnisnya. Faktanya, banyak awal up yang bermunculan kebanyakan dibangun oleh kamu muda.

“Generasi muda sungguh lebih mengerti bisnis digital. Itu bisa ikut partisipasi juga menimbrung memiliki sesuatu yang mereka pahami. Mereka juga kan sebagai konsumen perangkat digital, jadi mereka bisa ambil bagian dengan berinvestasi dalam Surge, ” ujar Alexander.

Pun, selaras dengan Alexander, eks Menteri Hubungan dan Informatika Rudiantara, menyebutkan budak muda Indonesia punya kreativitas, dengan sebetulnya akan menjadi pendorong ekonomi di Indonesia, khususnya dalam bidang ekonomi digital.

“Bagusnya, Kementerian Kominfo sudah mereposisi diri. Dulu hanya sebagai regulator, saat ini lebih dari itu, Kominfo lebih bersifat sebagai fasilitator, bahkan selalu sebagai akselerator. Contohnya, anak bujang yang ingin membangun start up lewat aplikasi, itu tidak perlu izin dari Kementerian Kominfo, lulus registrasi saja, ” jelasnya

Komisaris Utama Surge itu menambahkan, masyarakat dunia sekarang telah masuk pada DNA (Device, Network, and Application) dan yang paling cepat tumbuh adalah bisnis digital dengan aplikasi. Karena itulah, patuh Rudiantara, bisnis Surge memang sesuai dengan era DNA tersebut.

Ada tiga pilar dunia usaha yang tercakup dalam ekosistem digital Surge, yakni: periklanan Digital-DOOH (kereta dalam kota, kereta Sungguh Kota, road digital signage , dan lain-lain); pengembangan produk digital (aplikasi dan software)-LINIPOIN-Aplikasi transportasi massal-Laper Nih-MuslimApp-SobatTani; dan jaringan infrastruktur telekomunikasi.

Masa Surge IPO di bursa saham, market valuenya sekitar Rp1 triliun. Sementara, total investasi yang sudah dikeluarkan Surge sebesar Rp750 miliar. Karena pandemi COVID-19, Surge mengedrop harapan pada 2021 bisa muncul dan berkembang dengan target keuntungan Rp250 miliar.

Baca Juga: Aliran Modal Langka Masuk Rp3, 86 Triliun Sepekan Ini